arbiyanti

Resmi ‘Diadopsi’

Setelah menyelesaikan kuliah, saya memang masih sering datang ke kampus dan membantu teman-teman satu batch yang masih berjuang menyelesaikan tesis. Batch 36 terdiri dari 2 kelas: A dan B. Teman saya (nama DA) yang sudah dari awal saya kenal sebelum masuk kuliah, tergabung dalam kelas B sementara saya di kelas A.

Seiring berjalannya waktu, perbedaan umum karakter mahasiswa di kelas A dan B memang semakin terlihat dan karena di awal kuliah saya lebih banyak menghabiskan waktu luang bersama DA, jadi saya pun mulai mengenal pribadi mahasiswa kelas B. Di awal kuliah tahun 2016, saya sering mampir ke kelas B dan ngobrol sama DA. Saya pun tak segan memulai pembicaraan dengan anak B karena toh kita sama-sama Batch 36.

Dari yang tadinya sekedar ngobrol sama DA saja, akhirnya lama-lama saya pun sering nimbrung nongkrong sama mahasiswa kelas B. Dan berhubung hanya segelintir dari mahasiswa kelas A yang saya sering jalan bareng dan ngobrol, jadi wajar kalau kemudian hampir semua anak B kenal saya dibandingkan DA yang dikenal di kelas A.

Btw, saya tidak dikenal karena saya pintar secara akademis atau populer karena penampilan cantik, saya dikenal karena saya sering mampir ke kelas B dan ‘nyambung’ di obrolan-obrolan mereka. Saya nyaman ngobrol dengan mereka karena kami semua bisa membahas apapun bersama-sama. Tidak ada perasaan minder atau seseorang yang mendominasi pembicaraan, kami juga tidak membicarakan hal buruk mengenai orang lain, kami justru seringnya mentertawakan diri kami masing-masing atau membicarakan rencana besar seperti menyelamatkan dunia (hal yang terakhir maksudnya adalah kami adalah sekumpulan orang yang sering berandai-andai! Haha). Aniwey, semua pembicaraan terasa nyaman dan mengalir saja.

Tak heran ketika semalam saya diundang makan oleh teman saya di kelas B, saya setuju karena toh selama ini kami sering membahas tesis bareng. Dan ternyata diantara semua yang datang adalah teman-teman dari kelas B, saya adalah satu-satunya dari kelas A. Tapi kami semua berkumpul, makan, bernyanyi dan tertawa lepas. Mereka sempat berkomentar ‘Rin, lo tuh kayanya anak B tapi tersesat di kelas A deh’. Dan ketika saya sampai di rumah semalam, DA tulis pesan WA ‘Lo tuh udah resmi “diadopsi” anak B. Hahaha’.

Intinya, saya senang karena kami sejauh ini merasa nyaman dan nyambung menghabiskan waktu bersama. Semoga saya juga bisa berusaha menjaga pertemanan ini dengan baik.

Thank you for having me as your friend. I’ll cherish it wholeheartedly :)

Jakarta, 02.06.2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *