arbiyanti

Mari Berkaca

Sebagai seorang mahasiswa yang sedang menulis tugas akhir, saya akui rasa malas adalah musuh utama saya saat ini! Segudang pembelaan diri bisa saya ungkapkan disini. Mulai dari:

  1. Tak tahu harus mulai darimana
  2. Susah melanjutkan lagi euphoria menulis yang pernah saya dapatkan di bulan Juni lalu
  3. Tak tahu apa yang harus disarikan dari jurnal dan buku yang sudah saya baca
  4. Saya bahkan tak tahu apakah yang saya tulis ini sudah cukup layak baca atau belum
  5. Dan lain-lain…..

Tapi saya bukan hanya seorang mahasiswa. Saya juga berdiri di depan 12 mahasiswa semester 5 yang bersiap menghadapi magang tahun depan di Jerman. Tiap senin sore saya melatih mereka berbicara dalam bahasa Jerman, memberikan dorongan ke mereka untuk tetap semangat mengirimkan surat lamaran walaupun beberapa kali mereka terima penolakan. Suatu hari saya kasih tips ke mereka tentang menghadapi wawancara kerja, ketika pertanyaan ‘apa kelemahan/kekuranganmu?’ saya bilang ke mereka untuk berkata jujur mengakui apa kelemahanmu namun sampaikan dengan elegan sehingga memberikan kesan bahwa kelemahanmu adalah sebenarnya kekuatanmu. Sounds pretty twisted, huh! Dan tentu saja siswa saya semua terbengong-bengong dan bertanya ‘maksud Frau apa seh?’ Hahaha!

Saya kemudian tanya ke salah satu siswa: ‘kelemahanmu apa?” dia jawab ‘saya pemalas, Frau’ Dan tentunya tanpa bermaksud memperlihatkan kebingungan saya, seorang guru harus pintar putar otak dong! Jadi saya bilang ke mereka… ‘okay, bagaimana kita bisa menyampaikan kelemahan kita adalah malas tapi memberikan kesan kemalasan kita adalah kekuatan kita?’ Dan semua berpikir keras!

Saya kemudian bilang bahwa pada dasarnya rasa malas itu memunculkan ide untuk kreatif, ide untuk mencari jalan yang mudah. Saya beri contoh tentang Henry Ford yang ide awalnya menciptakan kendaraan bergerak adalah karena dia malas dan lelah kalau harus menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki atau naik kuda. Seorang matematikawan menciptakan lambang sama dengan ‚=‘ karena dia malas harus menulis ulang kata sama dengan, jadi dia ciptakanlah sebuah lambang.

Intinya saya bilang ke mereka… jadikanlah rasa pemalas sebagai pemicu untuk kalian mencari ide supaya cepat selesai mengerjakan tugas. Jadilah seorang pemalas yang kreatif!

Hhhmm… terkadang saya berpikir seharusnya ruang kelas dibuat seperti ruang latihan dansa… dikelilingi kaca! Karena jujur saja… ketika saya berdiri di depan siswa-siswa tersebut, saya serasa ingin berkaca dan mengucapkan hal yang sama ke diri saya sendiri!

Jakarta, 29.10.17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *