arbiyanti

Sensasi 4 Derajat

Kalau Anda tinggal di negara 4 musim, pasti Anda sudah biasa menghadapi dinginnya suasana malam di musim dingin. Mungkin Anda menghabiskan waktu dengan jalan-jalan malam atau keluar nonton konser musik (kalau memang kebetulan ada pertunjukan musik). Intinya, musim dingin sudah biasa lah pakai jaket tebal, topi kupluk dan sarung tangan.

Saya tidak perlu jauh-jauh merasakan itu semua. Tanggal 4-6 Agustus lalu digelar sebuah acara bertajuk Dieng Culture Festival (DCF) VIII yang merupakan acara budaya tahunan di Dieng, Jawa Tengah dengan suguhan acara salah satunya adalah menikmati alunan musik jazz di malam hari dengan suhu 4 derajat celcius berlokasi di area terbuka kompleks candi Arjuna. Ada cukup banyak rangkaian acara DCF selama 3 hari dan puncak acaranya adalah ritual pemotongan rambut anak gimbal.

Post saya kali ini akan lebih fokus menceritakan pengalaman saya menikmati musik di malam hari di alam terbuka yang dinginnya menusuk tulang, menyaksikan atraksi kembang api dan menerbangkan lampion.

Jujur saja, ketika kolega kerja saya dan saya memutuskan untuk pergi ke Dieng, saya tidak membayangkan akan berada di keramaian malam dengan suhu 4 derajat selama 2 malam berturut-turut. Sudah terlalu lama sejak terakhir kali saya berada di dinginnya malam. Saya ingat menghabiskan waktu di keramaian malam pada tahun baru 2009 di Frankfurt. Kala itu saya berdiri berdesakan di jembatan (saya bahkan tidak tahu nama jembatan-nya apa!) di tengah kota Frankfurt menantikan detik-detik pergantian tahun. Suasana dingin, ramai, hiruk pikuk dan takut terpisah dengan teman-teman membuat saya justru tidak menikmati kembang api yang mewarnai langit Frankfurt.

Siapa sangka di bulan Agustus ini, bulan yang seharusnya panas, malah justru dingin sekali di dataran tinggi Dieng. Menurut penuturan warga, saking dinginnya bahkan pernah turun salju yang akhirnya menyebabkan tanaman kentang (tanaman utama penyangga ekonomi masyarakat Dieng) menjadi rusak dan gagal panen. Dan karena alasan itulah, event musik Jazz di atas awan diadakan di tengah musim gagal panen, tak lain supaya kehadiran wisatawan bisa mendongkrak ekonomi masyarakat yang tengah lesu. Lebih menarik lagi karena event tahunan ini dikemas untuk sekaligus melengkapi ritual pemotongan rambut gembel.

Pada Jumat malam, 4 Agustus, dimulailah pertunjukan musik Jazz (atau cenderung Pop kalau menurut pendapat saya) yang musisinya dirahasiakan alias penonton sama sekali tidak tahu siapa musisi pengisi acara. Sekitar jam 19 rombongan saya bergegas menuju lokasi konser musik Jazz yang ternyata sudah dipenuhi penonton duduk manis di atas terpal. Saya belum pernah merasakan nonton pertunjukan musik di lapangan terbuka dan duduk di atas terpal sambil menggigil kedinginan.

Sebut saya lebay, tapi nyatanya sensasi nonton konser musik, duduk sila di atas terpal di malam dingin 4 derajat celcius justru membuat saya berpikir inilah yang membuat Jazz Di Atas Awan beda daripada konser musik lainnya. Dan ketika Anji muncul menyanyikan lagu2nya yang populer, saya malah terhanyut mendengarkan suaranya yang ternyata lebih merdu didengarkan secara langsung. Saya pun larut bertahan nonton konser dan pertunjukan kembang api sampai pukul 22.30, padahal jam 01-nya kami sudah harus bangun mengejar golden sunrise di Puncak Gunung Prau.

Agenda di sabtu malam, 5 Agustus lebih menarik karena akan ada kegiatan menerbangkan lampion. Dan tak disangka-sangka penyanyi yang menghangatkan malam kami adalah Katon Bagaskara. Seru! Tak disangka loh dari lagu-lagu yang dinyanyikan Katon, saya hampir hapal semua lagunya: Terpurukku, Dinda, Yogyakarta. Saya juga ikut hanyut menyenandungkan lagu „Negeri Di Atas Awan“, yang ternyata memang terinspirasi dari daerah Wonosobo dan Dieng tempat dimana kakaknya Katon berdomisili. Guberner Jawa Tengah, Pak Ganjar Pranowo pun didaulat untuk duet di atas panggung menyanyikan lagu Tak Bisa Ke Lain Hati.

Sekitar 30 menit Katon bernyanyi, tibalah acara puncak malam kedua DCF 2017: pelepasan lebih dari 3.000 lampion yang dilakukan secara bersama-sama. Ini seru juga karena lampion saya berhasil terbang! Seneng banget 😀 Dengan iringan lagu „Indonesia Pusaka“, satu per satu lampion beterbangan. Warna-warni lampion terlihat begitu cantik menghiasi langit Dieng, tapi berhubung saya gak suka foto-foto, jadi saya numpang foto saja lah sama teman-teman yang lain.

Malam semakin larut dan lampion sudah dilepaskan, maka kami pun kembali ke homestay unutk istirahat. Acara puncak Dieng Culture Festival 2017, Ritual Anak Gimbal berlangsung minggu pagi dan kami ikut menyaksikan pemotongan rambut 9 anak gimbal yang masing-masing permintaannya sudah dipenuhi. Kami ikut prosesi-nya hanya sampai pemotongan rambut, jadi tidak sampai selesai dimana potongan rambut tersebut dilarung di Telaga Warna.

Pukul 13 kami kembali ke homestay dan bersiap pulang menuju Jakarta. Walaupun kereta kami baru akan berangkat jam 22 malam, tapi kami sudah bergerak menuju Purwokerto untuk menghindari kemacetan akibat volume kendaraan yang menumpuk karena pengunjung DCF rata-rata pulang di waktu yang sama. Kami tiba di Pasar Senen dini hari, tepatnya subuh senin dan sesampainya di rumah kantuk menyerang jadi saya istirahat dulu lah sekitar 1 jam. Sekitar jam 08 saya sudah langsung kembali beraktivitas bekerja mengumpulkan segenggam berlian.

Ah.. dinginnya Dieng bikin kangen mau kesana lagi…

Tangerang, 29.08.17

2 thoughts on “Sensasi 4 Derajat

    1. arbiyanti Post author

      Iyaa.. suaranya doi merdu, lagu2nya okay punya dan suasana pertunjukan musiknya bener2 bikin kangen deh :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *