arbiyanti

Drama Cuti

Berhubung tema-nya masih liburan (liburan di sekolah tempat saya durasinya dari 21Juni-21 Agustus), jadi saya mau bahas sedikit fenomena menghitung cuti.

Tentang cuti sebenarnya sudah pernah saya tulis beberapa tahun lalu. Lihat post judul Cuti Liburan dan Work Like Crazy. Tapi setiap tahun drama tentang hitung menghitung cuti tidak pernah ada habisnya, cenderung berulang seperti deja vu. Maka kali ini saya mau tuliskan drama cuti edisi tahun 2017.

Drama dimulai ketika masing-masing dari kami mulai bertanya tentang jatah sisa cuti di akhir tahun 2016. Dengan perasaan cemas menanti informasi dari atasan, akhirnya kami mendapatkan ringkasan jatah cuti dan tentunya beberapa dari kami ada yang mulai gelisah karena sudah minus cutinya atau ada juga yang bertanya-tanya ‘loh kok tau2 cuti saya sudah mau habis ya?’ lengkap dengan gerakan garuk2 kepala.

Saya salah satu orang yang berusaha kalem tentang urusan cuti. Bahkan jarang ambil cuti karena toh kuliah sabtu membuat saya mengurungkan niat jalan-jalan di weekend. Dan kalaupun cuti biasanya jarang sampai berminggu-minggu. Bisa jamuran saya kalau kelamaan cuti!

Aniwey, satu hal yang pasti adalah.. masing-masing dari kita punya kebutuhan cuti yang berbeda, jadi kepada yang merasa tak keberatan dengan potong gaji asalkan bisa dapat cuti tambahan, yaa silahkan saja. Tapi yaa.. diam-diam saja lah dan tidak perlu memberikan bisikan-bisikan untuk mengajukan usulan cuti massal di saat liburan musim panas.

Jakarta, 24.07.17

Note: gemas karena walaupun cuti dan lagi asyik jalan-jalan, eh tiba-tiba ditanya tentang urusan perijinan dokumen tenaga kerja asing. Jadi.. mana lah mungkin admin bisa ambil cuti massal disaat mengurus RPTKA dan IMTA. *hoho, ceritanya sedang menjadi pejabat sementara di sekolah neh. Hah, mbelgedes!  😀

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *